Tantangan Masa Depan Indonesia

0
97

Kamis (18/09/2014), Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEUI mengadakan sebuah seminar, yang bertemakan ‘Seminar Pencerdasan: Tantangan Masa Depan Indonesia’. Seminar  yang dilaksanakan di Aula Student Center FEUI ini ditujukan tidak hanya untuk seluruh mahasiswa UI, tetapi juga untuk mahasiswa yang berasal dari universitas lain.

Seminar ini dihadiri oleh lebih dari 100 mahasiswa dan dibuka dengan sambutan dari Ketua BEM FEUI yaitu Mulyawan Tuankotta, atau yang lebih akrab dipanggil “Wan”. “Seminar pencerdasan ini sangat diperlukan oleh mahasiswa di seluruh Indonesia. khususnya mahasiswa FEUI karena setelah lulus kuliah nanti, lulusan FEUI sangat diharapkan untuk mengisi kursi-kursi di pemerintahan, dan bukan malah berdiam diri di sektor-sektor yang hanya memaksimalkan utilisasi diri mereka sendiri, “ungkap Wan.

Agar peserta seminar menyadari hal tersebut, seminar ini pun diawali dengan pemberian materi “Tantangan Masa Depan Politik Indonesia”. Materi ini diberikan oleh pembicara utama yaitu Direktur Eksekutif Charta Politica Indonesia Yunarto Wijaya, atau yang lebih akrab disapa  Toto.

Dalam memberikan materi Toto banyak mengaitkan keadaan politik di Indonesia saat ini dengan pemilihan presiden yang baru saja berlangsung kemarin. “Pemilihan Presiden 2014 merupakan pemilihan presiden yang paling konfrontatif sepanjang sejarah pemilu di Indonesia, hal tersebut dikarenakan hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia sangat antusias dalam pemilihan presiden kali ini ungkapnya ditengah-tengah pemberian materi”, ujar lulusan Magister FE UI ini.

Toto menambahkan bahwa antusiasme masyarakat mengenai pemilihan presiden tidak hanya dituangkan dalam obrolan sehari-hari, namun juga hingga ke media sosial. Pujian dan hinaan untuk kedua kubu di media sosial banyak ditemukan sebelum pemilihan presiden berlangsung. Foto-foto kedua calon presiden yang sudah mengalami proses editing sehingga lebih terlihat konfrontatif juga sering menjadi bahan obrolan di media sosial. Antusiasme masyarakat juga bisa dilihat dari kerelaan dirinya untuk terlibat ke dalam proses kampanye tanpa dibayar. “Meskipun banyak pihak yang mengatakan pemilihan presiden kali ini dipenuhi oleh kecurangan-kecurangan, namun pemilihan presiden kali ini cukup jujur”, terang Toto

Sebagai buktinya, antusiasme masyarakat tidak hanya terlihat pada periode sebelum Pemilu, tetapi juga pasca Pemilu pun masyarakat masih melibatkan dirinya dalam proses penghitungan suara. Sebagai contohnya dengan adanya kemunculan situs kawalpemilu.org dan keikutsertaan relawan-relawan yang datang saat terjadi penghitungan suara di masing-masing TPS.

Namun,  Toto tidak mengingkari bahwa pemilihan presiden saat ini masih menghabiskan biaya yang cukup besar, meskipun sebenarnya masing-masing kubu capres memang telah banyak melakukan penghematan, seperti konser-konser yang dihadiri oleh artis-artis yang rela tidak dibayar untuk mengkampanyekan salah satu capres.

Selain itu, Toto juga membenarkan bahwa pemilihan presiden kali ini memang masih melibatkan para elit politik atau tokoh-tokoh lama. Ketika sebagian besar masyarakat mengira bahwa kepemimpinan Jokowi adalah kepemimpinan oleh orang-orang baru, maka masyarakat tidak boleh buta bahwa yang berada di belakang Jokowi adalah tokoh-tokoh lama seperti Megawati, Surya Paloh, dan Wiranto. Namun, dibalik kelemahan-kelemahan tersebut, Toto tetap menganggap Pemilu 2014 ini merupakan pemilihan presiden yang paling berkualitas sepanjang sejarah karena masyarakat benar-benar memikirkan calon presiden pilihan mereka dengan baik.

Lalu apakah implikasi dari terbaginya elit politik menjadi dua kubu yang berbeda? Pengamat politik sempat mengkhawatirkan akan terjadinya instabilitas  politik akibat adanya koalisi permanen. Namun,  Toto optimis hal tersebut tidak akan terjadi karena elit politik yang berada di koalisi permanen (Koalisi Merah Putih) saat ini sudah bergerak secara perlahan mendekati kubu Jokowi.

“Tidak ada yang abadi dalam suatu sistem politik, yang abadi adalah kepentingan”, ungkap Toto. Kekhawatiran kita saat ini harusnya terkait dengan bagaimanakah sistematika pemilihan menteri kabinet yang akan dilakukan oleh Jokowi? Mampukah ia memenuhi janji-janji kampanye untuk menempatkan orang-orang ahli tanpa mempedulikan keinginan partai dan kedudukan politik orang-orang tersebut?

Pemberian materi kedua diberikan oleh Fasli Jalal, yang merupakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) saat ini. Ia menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia semakin hari semakin cepat. Namun, hal tersebut ternyata tidak didukung dengan daya dukung bumi yang berkelanjutan. “Karena daya dukung bumi yang terbatas, maka perlu dilakukan penekanan pada jumlah penduduk Indonesia agar daya dukung bumi di Indonesia dapat mencukupi seluruh kebutuhan masyarakatnya” paparnya.

Tak senada dengan Fasli Jalal, pembicara ketiga, Fithra Faisal, Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat FEUI, menyatakan hal yang berbena.”Angka kelahiran tidak perlu ditekan, namun cukup dikendalikan saja. Karena kebijakan untuk menekan angka kelahiran akan berdampak negatifdalam jangka panjang,” ungkapnya.

Fithra mengambil contoh negara China. Pada tahun 1980, China menerapkan kebijakan one child policy untuk menekan angka kelahirannya. Akibatnya, pada saat ini, China kehilangan masyarakat usia produktifnya. Komposisi demografi masyarakat China didominasi oleh masyarakat berusia lansia. Sehingga orang dengan usia produktif di China saat ini menanggung 4-5 orang lansia. Tentu saja hal tersebut akan mengurangi produktivitas China dalam membangun sektor perekonomiannnya.”Indonesia sebaiknya tidak perlu menekan angka kelahiran, tetapi cukup mengontrol angka tersebut agar pertumbuhannya konstan dan tidak terjadi ledakan,”tutup Fithra.

Penulis : Dayu Ayu Marina

Editor : Syapira Surya

LEAVE A REPLY